Browse By

Enak Mana Jadi Reseller atau Dropshiper? Cari Tahu Dulu Risikonya Yuk!

Bagikan ke Sosial Media

source : pixabay

Di tengah ramainya bisnis daring dewasa ini, peluang menjadi reseller dan dropshiper terbuka begitu lebar. Ini tentunya angin segar bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis tanpa harus keluar modal banyak. Sama seperti umumnya bisnis daring, modal utama yang diperlukan adalah perangkat yang terkoneksi internet. Perangkat yang digunakan bisa berupa komputer meja, laptop, tablet, maupun telepon pintar.

Baik reseller maupun dropshiper, memiliki aturan main berbeda. Keduanya sama-sama tidak memerlukan banyak modal dan sama-sama berisiko kecil. Tetapi tentunya jika modal yang tersedia lebih banyak, akan bermanfaat untuk kelancaran dan kemajuan usaha yang dijalankan.

Aturan Main Jadi Reseller

Reseller artinya menjual kembali. Kita membeli produk dari satu pihak, kemudian menjualnya kembali ke pihak lain. Keuntungan reseller diperoleh dari selisih harga beli dengan harga jual. Reseller bisa mendapatkan barangnya langsung dari produsen, distributor, agen, maupun pihak lainnya. Semakin kecil mata rantai yang dilalui barang, maka semakin murah harga yang bisa diperoleh reseller.

Menjadi reseller tidak selalu menguntungkan. Ada beberapa risiko yang harus dihadapi. Berikut ini adalah aturan main pada sistem reseller.

  • Reseller menjual produk yang sudah ada. Jadi, kita tidak perlu terlibat proses produksi dan penyediaan barang. Reseller hanya menjual barang yang sudah ada dan menentukan harga jual dengan berpatokan pada harga beli kita.
  • Produsen atau distributor umumnya memberlakukan syarat dan ketentuan. Misalnya, harga khusus reseller berlaku jika pemesanan sedikitnya 3 buah, 1 paket, 1 lusin, 1 pak, dan sebagainya. Ini berarti kita harus mendapatkan pembeli sejumlah dengan barang yang tersedia. Jka kurang, maka kelebihan barang bisa jadi stok yang harus segera dicarikan pembelinya.
  • Jika mendapatkan barang dari pihak yang bukan produsen atau distributor resmi, harga yang harus kita bayar lebih tinggi sehingga harga jual kita ke konsumen pun lebih tinggi. Masalah harga ini penting terutama untuk menjaga daya saing dengan reseller lainnya.
  • Reseller mengirimkan sendiri barangnya melalui jasa kurir dan mencantumkan namanya sendiri sebagai pengirim paket.

Aturan Main Jadi Dropshiper

Sistem dropship sebenarnya tidak jauh berbeda dari reseller, yaitu menjual kembali produk orang lain. Perbedaannya terletak pada sistem pengiriman. Jika pada reseller barang yang kita beli dikirim ke alamat kita terlebih dulu, selanjutnya kita yang mengirimkannya ke pembeli. Pada sistem dropship, barang dikirim dari tempat kita memesan langsung menuju alamat pembeli kita. Tapi, alamat pengirim yang tertera pada paket adalah alamat kita.

Cara dropship tampak lebih ringkas, namun tetap ada risiko yang harus dihadapi. Berikut ini adalah beberapa aturan main dalam sistem dropship.

  • Barang yang diperjualbelikan bukan milik dropshiper, tetapi milik orang lain. Dropshiper melakukan order pembelian kepada pemilik barang jika ada orang yang membeli kepadanya. Dropshiper tidak perlu memyimpan stok barang.
  • Dropshiper tidak melihat secara langsung barang yang diperjualbelikan, sehingga tidak mengetahui secara pasti kualitas barang yang dijualnya, termasuk kualitas kemasan pengiriman. Kecuali jika dropshiper memiliki barang serupa di tempatnya. Pembeli daring mengandalkan kualitas foto barang yang dibelinya sehingga mayoritas akan meminta informasi lebih mengenai produk. Misalnya akurasi warna barang, ukuran nyata, keaslian produk, dan sebagainya.
  • Dropshiper sering mengalami kesulitan dalam menangani keluhan atau komplen dari pembeli berkaitan dengan kualitas barang dan ketepatan waktu pengiriman. Hal ini karena dropshiper tidak melihat barang dagangannya dan bukan orang yang mengirimkannya ke jasa kurir.
  • Dropshiper harus menjalin kerjasama yang baik dengan penjual. Pastikan bahwa dropship dilakukan dengan penjual terpercaya. Jangan sampai pembeli yang sudah melakukan pembayaran kepada kita, tidak kunjung mendapatkan barangnya karena penjual yang kita pilih tidak melakukan pengiriman barang. Baik karena alasan stok barang habis, penjual sedang berhalangan, ataupun perjualnya ternyata orang tak bertanggung jawab.

Menjadi dropshiper sama saja seperti menjadi reseller, tetapi menjadi reseller belum tentu dropshiper, tergantung sistem pengiriman barang yang dilakukan. Baik menjadi reseller maupun dropshiper, keduanya memerlukan ketelitian dalam menjalin hubungan bisnis dengan pihak penjual maupun pembeli.


Bagikan ke Sosial Media

Comments

comments